Selasa, 02 Juli 2013

Suwe Ora Jamu...

Mengawali dan memulai lagi dari nol. Banyak peristiwa yang sudah terlewati, berlalu begitu saja. belajar dan belajar lagi... belajar menulis, mencoba 'memuntahkan' isi pikiran melalui tulisan yang apa adanya. Bercerita dan berbagi apa saja yang bisa dibagi.. (tapi bukan bagi-bagi duit ala BaLSeM pak beye). Serba tidak menentu dan acak-acakan seperti carut-marutnya negeri ini.

Sebentar... ini arahnya mau kemana ya?
Begini, sebenarnya mau nulis masalah kenaikan harga BBM dan keputusan 'gila' penguasa negeri ini. Mulai dari Dewan Penipu Rakyat yang sontoloyo sampai tutur kata pak beye yang manis menipu rakyat. Kenaikan harga BBM begitu dramatis dan sadis, lebih tepatnya masa bodo'lah... begitu kira-kira pikir mereka (para penguasa korup). Konspirasi penguasa yang disutradarai asing, liberalisasi migas yang menjarah harta rakyat.
Kondisi semacam ini semakin menantang bagi mereka yang peduli dengan arah perubahan. Hingar-bingar dunia politik yang didominasi para penipu semakin menarik untuk dibuang dan ditinggalkan. Melawan arus pesta demokrasi yang sudah mulai dipanasi. Situasi dari kenaikan harga BBM semoga bisa mengajari rakyat untuk bergerak dan melawan. GANTI REZIM GANTI SISTEM !!
.........
Gerilya


Kamis, 12 April 2012

Gerakan Tolak Bayar Pajak


Penguasa, penegak hukum, dan pegawai pajak di negeri ini nilainya sudah jatuh di mata rakyat. Adanya Gerakan Tolak Bayar Pajak membuktikannya. “Ngapain bayar pajak kalo ujung-ujungnya dikorup!” Mending nggak bayar pajak, nggak ada yang bisa dikorup!” Begitu kira-kira argumen orang-orang yang selama ini taat bayar pajak.

Suer, suap menyuap telah meruntuhkan kepercayaan rakyat terhadap alat-alat negara. Dan sebaliknya, para petugas yang jujur dan tak mampu disuap adalah para penegak pilar-pilar kepercayaan rakyat. Seribu empat ratusan tahun yang lalu orang-orang Yahudi Khaibar mengakuinya. Berikut kisah petugas penghitung dan pemungut bagi hasil musaqat kebun kurma Khaibar milik Negara Islam…

Sulaiman bin Yassar mengatakan bahwa Rasululah Saw mengutus Abdullah bin Rawahah ra berangkat ke Khaibar (wilayah negara Islam yang baru saja tunduk kepda kekuasaan kaum Muslimin yang sebelumnya adalah daerah Yahudi) untuk menaksir hasil buah kurma di daerah itu. Rasulullah Saw (sebagai Kepala Negara Islam) telah memutuskan hasil bumi Khaibar dibagi dua: Separoh untuk kaum Yahudi yang mengolahnya (dengan aqad musaqat) dan separohnya lagi diserahkan kepada kaum muslimin.

Ketika Abdullah bin Rawahah sedang menjalankan tugas, orang-orang Yahudi datang kepadanya membawa berbagai perhiasan yang mereka kumpulkan dari istri mereka masing-masing.

Kepada Abdullah bin Rawahah mereka berkata, ”Perhiasan ini untuk anda, ringankanlah kami dan berikan kepda kami bagian lebih dari separoh.”

Abdullah bin Rawahah menjawab, ”Hai kaum Yahudi, demi Allah, kalian memang manusia-manusia hamba Allah yang paling kubenci. Apa yang kalian perbuat itu justru mendorong diriku lebih merendahkan kalian. Suap yang kalian tawarkan itu adalah barang haram, dan kami kaum Muslimin tidak memakannya!”

Mendengar jawaban tersebut mereka menyahut, ”Karena itulah langit dan bumi tetap tegak!” (Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam kitab Al-Muwatha: 1450)

Semoga negeri yang dulu pernah menerapkan syariah Islam dalam bentuk kesultanan-kesultanan ini, mulai memutar haluannya untuk kembali kepada Islam. Semoga segera muncul negara Khilafah Islamiyah yang alat-alat negaranya terdiri dari orang-orang yang tidak mempan disuap. Dan bumi dan langit kepercayaan rakyat pun akan tetap tegak. [umar abdullah]

Selasa, 13 Desember 2011

Demokrasi, Duit Jadi Kendali


Ya itulah hakikat demokrasi, duit menjadi episentrum kendali tingkah laku para politikus. Cuma yang ngomong sekarang itu di antara sekian para pelakunya sendiri. Fakta nyata, para pejabat politik tersandera oleh kepentingan dan uang, tabiat sistem demokrasi adalah transaksional kepentingan dari para politikus busuk dan pemegang modal. Dan ini bukan kasuistis, tapi kultur/budaya politik produk dari sistem bobrok ini.

Nazaruddin, salah satu pelaku dan korban dari sistem demokrasi, ketika menyatakan yang menang itu bukan demokrasi tetapi duit itu menunjukkan bahwa dia dalam posisi terpojok. Dia dalam posisi bermasalah, di sisi lain dia juga tidak bisa memungkiri rasa getir atas realitas kemunafikan yang terjadi dalam politik demokrasi. Jika dia tidak dalam posisi terpojok, belum tentu dia akan mengeluhkan sistem yang hipokrit ini.

Tidak ada negara di muka bumi makmur, sejahtera, dan adil lahir batin serta meliputi aspek dunia dan akhirat dengan demokrasi. Pengagum demokrasi selalu menyebut negara Skandinavia sebagai contoh ideal pelaksanaan demokrasi, karena melahirkan kemakmuran dan kesejahteraan, tapi aspek moral yang bobrok tidak pernah mereka ungkap. Apalagi Amerika Serikat, kampium demokrasi saat ini dalam kondisi sekarat dihantam badai krisis permanen dan periodik dari ideologi kapitalis yang dianutnya.

Umat Islam pun tidak sedikit yang larut dalam demokrasi. Di antara faktornya adalah pertama, karena lemahnya pemahaman umat Islam pada wilayah prinsip. Mana perkara yang boleh diambil dan tidak, umat lemah untuk bisa memilah perkara yang sesuai dengan akidah dan syariahnya.

Kedua, gencarnya propaganda Barat mempromosikan demokrasi di dunia Islam yang akhirnya umat tersesatkan bahkan kemudian apologis mencampuradukkan produk ideologi Barat kapitalis-sekuler itu dengan dimuka bumi makmur, sejahtera, dan adil lahir batin serta meliputi aspek dunia dan akhirat. Ketiga, pendidikan terhadap umat Islam yang sekuler makin mengokohkan prinsip-prinsip kehidupan politik untuk umat Islam makin jauh dari Islam Ideologi. Akhirnya “latah demokrasi” menjadi lazim di sebagian besar umat Islam termasuk politikus yang mengklaim dirinya memperjuangkan Islam.[mediaumat]

Kamis, 08 Desember 2011

Katanya demokrasi, tapi ko'??...

Kapitalisme benar-benar telah ambruk, ide kebebasan benar-benar telah runtuh. Negara yang senantiasa menggemborkan kebebasan dan demokrasi pun akhiranya menutup kran kebebasan para pengunjuk rasa yang mengungkap kebobrokan sistem yang diterapkan. Polisi AS membongkar lebih dari 100 tenda di kamp Pendudukan di San Fransisco, menangkap lebih dari 50 pengunjuk rasa yang menolak untuk meninggalkan tempat itu. Puluhan mobil polisi, pemadam kebakaran mengelilingi daerah tersebut, sementara lebih dari 200 polisi anti huru-hara menyerbu perkemahan di Justin Herman Plaza sekitar jam 02.00 pagi pada hari Rabu.

Ratusan pengunjuk rasa Kamp San Fransisco adalah perkemahanan Occupy terbesar terakhir yang dibangun setelah polisi membongkar tenda di kota Los Angeles dan Philadelphia pekan lalu.
Mereka membangun tenda-tenda di tempat itu serta menyampaikan pesan-pesan yang mengungkap realitas kenyataan akibat kerusakan sistem kapiltaisme. Beberapa tenda bertuliskan pesan, "Occupy SF, We are the 99%", menunjukkan wajah kapitalisme sesungguhnya di mana para penguasa lebih menguataman para pemilik kekayaan yang hanya 1% saja, sementara 99% rakyat ditelantarkan.

Menurut polisi, lebih dari 50 pengunjuk rasa ditangkap dan dua petugas diserang selama penyerbuan. Beberapa pengunjuk rasa kembali ke daerah itu dan dilaporkan berencana untuk mendirikan kamp-kamp di tempat lain.

Polisi AS telah bergerak untuk menghancurkan perkemahan gerakan Occupy di kota-kota besar selama beberapa pekan terakhir, melakukan penyerangan brutal, dan menangkap puluhan pengunjuk rasa.

Gerakan Occupy Wall Street mulai terjadi ketika sekelompok demonstran berkumpul di distrik keuangan New York pada 17 September untuk memprotes distribusi kekayaan yang tidak adil di negara itu dan pengaruh yang berlebihan dari perusahaan-perusahaan besar pada kebijakan AS.

Meskipun tindakan keras polisi dan penangkapan massa, gerakan Occupy tumbuh dan berkembang di luar Occupy Wall Street, kini telah menyebar ke banyak kota-kota besar di Amerika Serikat serta negara-negara kapitalisme lainnya seperti Australia, Inggris, Jerman, Italia, Irlandia dan Portugal.

Demikianlah, rakyat di negara-negara Kapiltalisme mulai merasakan ide busuk sesungguhnya dari Kapitalisme yang lebih mementingkan para kapital, pemilik modal, daripada rakyat. Ini mestinya menjadi pembuka pikiran umat, bahkan sistem kapitalisme tidak akan pernah menyejahterakan rakyat, selain segelitin para pemilik kekayaan yang berkolaborasi dengan para penguasa.

Dunia kini menantikan sistem baru yang benar-benar akan melayani rakyat dan menyejahterakan rakyat bukan sistem yang hanya melayani kepentingan para pemilik modal dan para penguasa negara adidaya. Sistem itu tentu saja bukan demokrasi, tetapi dunia menanti sistem Khilafah yang akan menerapkan syariah dan mengelola sumber daya alam dengan syariah hingga menyejahterakan rakyat secara nyata. Insya Allah, semakin dekat, dan kini benderanya terus berkibar di seluruh dunia. [m/f/prstv/syabab.com]

Minggu, 09 Oktober 2011

Perang Melawan Terorisme


Sesungguhnya saat ini tengah terjadi upaya-upaya pendiskreditan dan penghancuran gerakan Islam. Apa yang disebut oleh Amerika Serikat sebagai The Global War Againts Terrorism hanyalah kedok belaka untuk memerangi gerakan-gerakan Islam di berbagai negeri muslim. Buktinya, Pertama, pemerintah Amerika Serikat hanya memaknai terorisme kepada orang dan kelompok yang dalam prinsip dan kegiatannya tidak sesuai dengan kepentingan Amerika Serikat. Sementara, meski Israel terang-terangan melakukan kekerasan, membantai dan mengusir penduduk Palestina hingga detik ini, bahkan Amerika Serikat secara sangat brutal mengagresi Irak, tidak disebut melakukan terorisme. Amerika Serikat juga tidak berusaha menangkapi tokoh-tokoh seperti Yisthak Rabin, Ariel Sharon dan presidennya sendiri, Bush, yang telah memerintahkan penyerangan terhadap Irak. Kedua, pada kenyataannya perang melawan terorisme memang ditujukan pada gerakan Islam. Korban telah berjatuhan. Di samping Afghanistan dan Irak yang telah diserang habis oleh Amerika Serikat, atas nama memerangi terorisme, juga terjadi penangkapan-penangkapan aktivis gerakan-gerakan Islam di berbagai negara. Di Uzbekistan, lebih dari 7000 anggota gerakan Islam ditangkap, dipenjarakan, disiksa dan sebagiannya syahid padahal mereka tidak melakukan tindakan kekerasan. Begitu juga di Azarbeijan, Tajikhistan, Kirgystan, Mesir, Pakistan dan negeri-negeri muslim lain.

Menambah upaya-upaya yang dilakukan AS sebelumnya, seperti ditangkapnya Umar al-Faruq, Agus Budiman, Fathurrahman al-Ghazi, Agus Dwikarna, dan sejumlah warga negara Indonesia lain, pemerintah AS seolah ingin menunjukkan kepada dunia internasional bukti bahwa Indonesia benar-benar telah menjadi sarang teroris, serta bualan mereka tentang terorisme dan jaringannya di negeri ini adalah benar, sehingga kampanye perang global melawan teroris (the global war againts terrorism) termasuk di Indonesia merupakan sebuah kemestian.

Yang dikehendaki oleh AS atas pemerintah Indonesia agaknya dapat dicapai. Pemerintah Indonesia segera mengeluarkan Perpu Anti Teroris, Abu bakar Baasyir yang memang sudah lama diincar akhirnya ditangkap, serta terciptanya stigma negatif terhadap gerakan Islam terutama setelah Jamaah Islamiyyah (JI) dinyatakan sebagai teroris. Stigma negatif diperlukan untuk menekan perjuangan Islam yang melalui angin reformasi terus tumbuh serta menakut-nakuti umat Islam Indonesia tentang apa yang mereka sebut bahaya militansi Islam. Langkah berikutnya yang akan dilakukan oleh AS adalah memasukkan tokoh-tokoh yang sudah lama diincar sebagai anggota JI agar tampak absah bila nantinya ditangkap. Bila benar semua itu nanti terjadi, maka cita-cita AS untuk menyapu habis gerakan Islam dengan menjebloskan tokoh-tokohnya ke penjara bakal memetik sukses besar.

Mengapa AS melakukan itu semua? Amerika Serikat melakukan itu semua untuk melanggengkan dominasi politik dan ekonominya atas dunia Islam, termasuk di Indonesia, yang secara geopolitik memang sangat strategis dan secara ekonomis sangat kaya. Amerika Serikat melihat bahwa ancaman atas dominasi itu, setelah era perang dingin, potensial datang dari umat Islam yang memiliki kesadaran politik, bahwa syariah Islam adalah satu-satunya solusi bagi segenap problematika kehidupan dan perjuangan bagi tegaknya syariah wajib adanya demi tegaknya kembali izzul Islam wal muslimin. Dengan demikian, perang global melawan terorisme hanyalah cerita bualan AS agar semua langkah-langkah politiknya demi melanggengkan dominasinya di dunia Islam dan menghentikan laju pertumbuhan gerakan Islam itu tampak absah di mata dunia internasional.

Menanggapi semua itu Hizbut Tahrir Indonesia menyatakan:

1. Menolak keras setiap upaya busuk penggiringan opini internasional yang digalang oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya seperti Inggris, Singapura, Philipina, Australia untuk menyudutkan Islam yang diidentikkan dengan terorisme. Sesungguhnya Islam datang untuk membawa rahmat. Justru imperialisme atau penjajahan dengan segala bentuknya, dimana Amerika Serikat sebagai aktor utamanya, itulah yang selama ini telah membawa kesengsaraan pada bangsa-bangsa di dunia.

2. Meminta pemerintah Indonesia untuk tidak meladeni provokasi AS serta mengambil langkah-langkah diplomatik penting guna menghindari tekanan AS dan membebaskan peradilan dari tekanan politik terutama dari pihak-pihak luar negeri.

3. Menyerukan kepada umat Islam di mana pun berada untuk meningkatkan keteguhan iman, persaudaraan, persatuan dan solidaritas ummat guna menghadapi fitnah dan provokasi keji AS, serta menyerukan kepada ummat Islam untuk bangkit dan bersatu menegakkan kembali khilafah Islamiyyah yang akan menjaga setiap jengkal negeri Islam, melawan imperialisme dan mewujudkan kembali izzul Islam wal muslimin.

(Pernyataan Sikap JUBIR HTI)

Kamis, 28 Juli 2011

Surat Terbuka untuk Bupati Bekasi








Surat Terbuka untuk Bupati Bekasi

Assalamu’alaikum warohmatulloh wabarokatuh

Segala puji hanya bagi Alloh SWT, memohon pertolongan dan ampunan kepadaNya dan hanya kepadaNya kita mengabdi. Kita berlindung kepada Alloh dari kejahatan diri kita dan kejelekan amal-amal kita.

Aku bersaksi tidak ada Illah yang berhak diibadahi secara benar melainkan hanya Alloh tiada sekutu baginya dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad SAW adalah hamba dan RosulNya.

Alloh SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alloh sebenar-benar taqwa kepadaNya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam” (QS. Ali-Imron:102)

Wahai hamba Alloh pejabat Negara yang mengaku beragama Islam (khususnya Bupati Bekasi), ingatlah akan firman Alloh SWT: Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”(QS. Al Israa: 32)

Berdasarkan fakta yang ada diwilayah kabupaten Bekasi berupa banyaknya tempat perzinaan (warung remang-remang, café, diskotik dan lain-lainnya) maka dengan ini saya mengingatkan dan menyeru kepada bapak Sa’dudin selaku Bupati Bekasi agar segara menutup selama-lamanya tempat perzinaan/ pelacuran tersebut! Penutupan tempat maksiat tersebut selayaknya bukan karena menghormati bulan Ramadhan saja, akan tetapi karena memang sudah sepantasnya, karena tempat maksiat tersebut telah melanggar Perda yang berlaku dan sudah barang tentu sangat melanggar Syariat Islam.

Demikian surat ini saya sampaikan tanpa panjang lebar dan basi-basi. Langkah dan tindakan nyata dari bapak Bupati Bekasi sangat kami harapkan. Sebagai penutup renungkanlah firman Alloh SWT: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS. At Tahriim: 6)

Ya Alloh saksikanlah hambaMu telah menyampaikan kebenaran.

Wassalu’alaikum warohmatulloh wabarokatuh.

Warga Kabupaten Bekasi

Hasan Ibnu Soleh

Minggu, 24 Juli 2011

PENETAPAN AWAL DAN AKHIR RAMADHAN


Metode Hisab, Lemah Bagai Sarang Laba-laba

Organisasi Muhammadiyah dan Persis menggunakan hitung-hitungan astronomi (hisab astronomi) dalam menetapkan hari raya, metode ini dianggap akurat dan sangat kecil kemungkinan kesalahannya.

Tetapi metode hisab astronomi sangat lemah karena Al-Quran dan as-sunnah tegas-tegas menyatakan bahwa metode yang benar dengan ”Melihat Hilal” dan ini berlaku selamanya. lihat 2 hal 36; juga 3 hal 12, juga 4 hal 282

Karena dalam metode hisab astronomi masih ada unsur dugaan (tidak pasti), kepastian adanya hilal atau tidak hanya dengan melihat hilal, bukan dengan menghitung kapan datangnya. Metode ru’yat mudah, sederhana dan bisa dilakukan dengan teknologi sangat rendah sekalipun. Yang penting, ahli ru’yat disamping seorang muslim yang adil, baligh dan berakal, juga seorang yang penglihatannya bagus, memahami metode ru’yat dan terpercaya (tsiqah). Jadi. tidak perlu alat yang canggih atau seorang ahli astronomi untuk menentukan hilal. Begitulah Allah swt memudahkan agama ini buat kaum muslimin, maka nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan: fabiayyi aalaai rabbikumaa tukazzibaan.

Metode Ru’yat, Ini Pendapat yang Sahih

Metode ru’yat (pengamatan) dilakukan dengan melihat hilal di saat Maghrib menjelang, menggunakan mata telanjang atau dengan alat bantu. Metode ini adalah metode yang paling benar sesuai dengan Al-Quran dan as-sunnah.

Barangsiapa yang melihatnya (hilal) maka hendaknya ia berpuasa (Al-Baqarah 185).

Berpuasalah kalian apabila melihat hilal (Ramadhan) dan berbukalah kalian apabila melihat hilal (Syawwal). Lalu apabila mendung menghalangi kalian, maka sempurnakanlah hitungan sya’ban sampai tiga puluh hari (HR Bukhari & Muslim).

Bahwa seorang Arab Badui datang kepada Rasulullah saw seraya berkata:”'Saya telah melihat hilal (Ramadhan)”, Rasulullah saw lalu bertanya: ”Apakah kamu bersaksi bahwa tidak ada Ilah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”, Orang itu menjawab: ”Ya”, Kemudian Nabi saw menyerukan: ”Berpuasalah kalian” (HR Abu Dawud, An-Nasa`i, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas).

Ru’yat Lokal, Sudah Ketinggalan Zaman

Setelah kita memastikan bahwa metode hisab astronomi tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw dan memastikan bahwa metode ru’yat yang sahih. Sekarang tinggal satu masalah lagi, apakah menggunakan metode Ru’yat Lokal atau Global?

Ru’yat Lokal adalah hasil ru’yat yang hanya berlaku untuk daerah matla’ (daerah yang terlihat hilal), metode Ru’yat Lokal (matla’) berdasarkan Hadits Kuraib.

Kuraib ra meriwayatkan, ”Aku pergi ke Syam. Pada saat aku berada disana, muncullah hilal Ramadhan dan aku saksikan sendiri hilal itu pada malam Jum’at. Kemudian pada akhir bulan, aku datang kembali ke Madinah dan ditanyai oleh Ibnu Abbas ra, kemudian teringat olehnya hilal”, Katanya: ”Bilakah kalian melihat itu?”, ”Kami melihatnya pada malam Jum’at”, ujarku. ”Apakah engkau sendiri melihatnya?”, tanya Ibnu Abbas pula. ”Benar, jawabku. juga di lihat oleh orang banyak. Hingga mereka berpuasa, termasuk diantaranya Mu’awiyah”, ”Tetapi kami melihatnya malam Sabtu, kata Ibnu Abbas. Hingga kami akan terus berpuasa hingga cukup 30 hari entah kalau kelihatan sebelum itu”, ”Tidakkah cukup menurut engkau penglihatan dan berpuasanya Mu’awiyah?”, tanya aku. ”Tidak, ujarnya, Begitulah perintah Rasulullah saw kepada kami” (HR Ahmad, Muslim dan Tirmidzi).

Hadits ini hasan sahih dan gharib menurut kitab Fiqih Sunnah. lihat 1 hal 33-34; juga 3 hal 14

Hadits Kuraib merupakan ijtihad Ibnu Abbas ra dan bukanlah hadits dari Rasulullah saw, Ibnu Abbas ra berijtihad berdasarkan sabda Rasulullah saw: ”Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya” Ijtihad Ibnu Abbas ra ini menyelisihi hadits yang diriwayatkan oleh jama’ah sahabat Anshar:

Mereka berkata: ”Hilal Syawal tertutup mendung lalu kami berpuasa pada pagi harinya. Lalu pada akhir hari ada kafilah datang lalu mereka bersaksi pada Rasulullah saw bahwa kemarin mereka telah melihat hilal lalu beliau menyuruh manusia berbuka pada hari itu juga dan agar mereka keluar untuk shalat ied pada pagi harinya” (HR Mutafaq’alaihi, kecuali Tirmidzi).

Ketika memperoleh kabar dari kafilah yang datang dari luar kota Madinah bahwa hilal telah terlihat di daerah lain, Rasulullah saw langsung memerintahkan para sahabat untuk berbuka pada sore itu juga, kemudian shalat ied besok paginya. Hadits Kuraib yang merupakan ijtihad Ibnu Abbas ra terbantahkan dengan hadits dari jama’ah sahabat Anshar, sehingga Ru’yat Lokal bukanlah pendapat yang kuat. lihat 4 hal 283-284

Ru’yat Lokal juga berdasarkan pendapat Imam Syafi’i dimana jika ada kesamaan matla’ (daerah yang terlihat hilal) maka wajib berpuasa untuk daerah itu saja, sementara umat yang berada di luar matla’ berlebaran sesuai dengan hasil ru’yat-nya sendiri. Radius matla’ ditetapkan oleh Imam Syafi’i sejauh 24 farsakh atau kira-kira 133 km (1 farsakh= 5,541 km), hal ini karena keterbatasan teknologi informasi saat itu (kuda yang berlari) dalam menyampaikan informasi ke daerah sekitar matla’. lihat 3 hal 13; juga 2 hal 35-36; juga 4 hal 282

Sementara dengan teknologi informasi saat ini dengan cepat bisa disebarkan hasil ru’yat ke seluruh negeri kaum muslimin, sehingga pendapat Imam Syafi’i tidak kuat lagi untuk kondisi saat ini, sesuai dengan ucapan terkenal Imam Syafi’i:

“Bila kalian menemukan dalam kitabku sesuatu yang berlainan dengan hadits Rasulullah saw, peganglah hadits Rasulullah saw itu dan tinggalkanlah pendapatku itu”

Ru’yat Global, Pendapat Mayoritas Imam Mazhab

Ru’yat Global adalah ru’yat yang berlaku untuk seluruh dunia. Jika suatu negeri kaum muslimin telah melihat hilal maka segera informasi ini disebarkan ke seluruh negeri-negeri kaum muslim yang lain, maka diseluruh dunia kaum muslimin berlebaran di saat yang sama. lihat 1, hal 33, juga 4 hal 280-281, juga 2 hal 35 Tidak ada lagi sekat-sekat batas negara dan suku bangsa (nasionalisme) karena begitulah aqidah Islam.

Hilal bisa saja tidak terlihat pada negeri yang waktunya lebih awal karena: 1) sudut derajat masih rendah atau 2) cuaca mendung. Sementara ketika bulan melewati negeri kaum muslimin berikutnya maka hilal memungkinkan bisa terlihat, sehingga kewajiban semua negeri kaum muslimin untuk mengikuti ketetapan negeri yang telah melihat hilal.

Jumhur 3 Imam Mazhab Imam Hanafi, Maliki dan Hanbali menganut Ru’yat Global, hanya Imam Syafi’i yang menganut Ru’yat Lokal (matla’). lihat 2 hal 35 Seperti telah dijelaskan di atas, pendapat Ru’yat Lokal Imam Syafi’i tidak sesuai lagi dengan perkembangan teknologi informasi saat ini.

Jika kita teliti lafadz hadits tentang melihat hilal maka kita temukan makna yang jelas tentang kebenaran Ru’yat Global. Lafadz haditsnya berbunyi demikian:

Shuumuu liru’yatihi wa afthiruu liru’yatihi fain ghubbbaya ’alaikum fa akmiluu ’iddata sya’baana tsalaatsiina yauman (rawahul bukhaarii wa muslim).

Dhamir jama’ah pada dua kata SHUUMUU (berpuasalah kalian) dan AFTHIRUU (berbukalah kalian) terdapat huruf WAWU yang menunjukkan bentuk jamak yang ditujukan kepada seluruh kaum muslimin.

Begitu juga lafadz RU’YATIHI (melihat bulan) terdapat huruf HA yang merupakan isim jinsi yang diidhafatkan (disandarkan) pada dhamir (kata ganti), artinya jika salah satu dari kalian melihat hilal maka berpuasa atau berbukalah. lihat 4 hal 281

Dengan demikian hadits di atas bermakna:

Berpuasalah kalian (semua kaum muslim) apabila (salah satu dari kalian) melihat hilal (Ramadhan) dan berbukalah kalian (semua kaum muslim) apabila (salah satu dari kalian) melihat hilal (Syawwal). Lalu apabila mendung menghalangi kalian, maka sempurnakanlah hitungan sya’ban sampai tiga puluh hari (HR Bukhari & Muslim).

Menurut Imam Syafi’i cukup satu orang laki-laki yang melihat hilal, sementara menurut Imam Hanafi, Maliki dan Hanbali minimal disaksikan oleh dua orang laki-laki. lihat 2 hal 38-39, juga 3 hal 20 Dalam hal ini tidak berlaku prinsip mayoritas (demokrasi), meskipun telah di sebar 25 titik pengamatan ru’yat tetapi jika satu atau dua orang melihat hilal maka seharusnya ditetapkan hilal sudah terlihat.

Wilayatul Hukmi, Apa Pula Ini?

Jika pendapat Imam Syafi’i dijalankan secara konsisten maka wilayah Indonesia terkotak-kotak menjadi banyak matla’ (ikhtilaaful mathaali’), sehingga memungkinkan berbeda-beda waktu berlebaran untuk masing-masing matla’.

Jika ru’yat dilakukan di Jakarta maka ketetapan hasil ru’yat hanya berlaku hingga radius 24 farsakh (133 km), artinya satu kesatuan matla’ hanya sampai daerah Anyer sedangkan Lampung, Palembang, Jateng, Jatim dan daerah lain harus melakukan ru’yat sendiri-sendiri.

Tercerai-berainya umat karena perbedaan matla’ diatasi dengan jalan kompromi berupa konsep ”Wilayatul Hukmi”, dimana hasil ru’yat berlaku untuk satu kesatuan hukum negara Indonesia. Dimana konsep wilayatul hukmi ini tidak mengikuti pendapat 3 Imam Mazhab (Imam Hanafi, Maliki dan Hanbali) yang menganut Ru’yat Global, juga tidak mengikuti pendapat Imam Syafi’i yang menganut Ru’yat Lokal. Jadi bukan pendapat siapa-siapa.

Khatimah

Dalam menetapkan 1 Syawal saja kaum muslimin dari berbagai negeri tidak kompak, bagaimana mungkin bisa menyelesaikan hal-hal yang lebih besar seperti: membebaskan negeri-negeri kaum muslimin Palestina, Afghanistan, Iraq, Kashmir, Chechnya dan Mindanao dari penjajahan zionis yahudi dan salibis; menghentikan penjarahan sumber daya alam oleh kafir barat; menghadang budaya hedonis yang merusak kehidupan; atau menyelamatkan umat dari ideologi sesat sekulerisme, pluralisme dan liberalisme.

Sehingga dibutuhkan sebuah Institusi yang bertujuan adanya satu komando dalam beribadah (amrul imaami yarfa’ul khilafa: perintah Imam/Khalifah menghilangkan perbedaan), menyatukan seluruh negeri-negeri kaum muslimin yang tersebar lebih dari 50 negara, menjalankan syari’at Islam secara kaaffah dalam mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara, memiliki izzah atas penghinaan musuh-musuh Islam, serta menyebarkan cahaya Islam ke seluruh dunia melalui da’wah dan jihad.

Wallahua’lam

Maraji’:

1. Fiqih Sunnah (fiqhus sunnah), Sayyid Sabiq, Pena Pundi Aksara, cetakan 3, Januari 2008.

2. Puasa Menurut Empat Mazhab (al-fiqh ’ala al-madzahib al-arba’ah), Abdurrahman Al-Jaziri, Penerbit Lentera, cetakan 3, November 1998.

3. Menyelami Makna Hadits Ramadhan (syarh ahadits ash shiyam), Nadhim bin Muhammad bin Sulthan al-Misbah, Al-I’tishom Cahaya Umat, cetakan 1, Oktober 2003.

4. Mafahim Islamiyah, Muhammad Husain Abdullah, Al-Izzah, cetakan 1, Februari 2003